Jl. HR. Boenyamin No. 16-17
Purwokerto Utara
0281-641338
0822-2637-3666

Pentingnya Analisis Keuangan Bagi Koperasi

Oleh: Mulkan Putra, HC. 

Banyak cerita bisnis yang dijalankan koperasi tidak menguntungkan, hal tersebut disebabkan beban operasional tidak berimbang dengan pendapatan yang dihasilkan dari proses bisnis yang dijalankan oleh koperasi. Pada akhirnya kebangkrutan bisnis yang dijalankan oleh koperasi pun takterhindarkan.

Saya selalu bilang dimana-mana, bahwa koperasi adalah lembaga yang unik. Koperasi, selain sebagai lembaga sosial juga lembaga bisnis yang memiliki tanggungjawab atas kesejahteraan bagi anggotanya. Karena sebagai lembaga bisnis, sudah menjadi keharusan bagi koperasi taat akan ruh-ruh bisnis. Salah satunya adalah, taat akan perencanaan, pencatatan, laporan hingga analisis keuangan bisnis koperasi.

Perencanaan keuangan bisnis koperasi

Bagi pelaku bisnis, tidak umum dengan istilah proyeksi dan studi kelayakan bisnis. Mudah-mudahan istilah tersebut juga tidak asing bagi praktisi koperasi, karena sudah saya katakan diawal bahwa koperasi juga lembaga bisnis. Sekali lagi, koperasi juga lembaga bisnis.

Dalam proyeksi dan studi kelayakan bisnis, bagi praktisi koperasi merumuskan skema bisnis yang akan dijalankan dari sudut padang formula keuangannya. Adalangkah yang perlu dihitung dalam proyeksi dan studi kelayakan bisnis tersebut, pertama adalah persiapan, dan kedua adalah proyeksi bisnis. Dalam perencanaan diantaranya adalah: persiapan aset (yang terdiri dari pengadaan gedung, dan pengadaan alat-alat penunjang bisnis), persiapan SDM (open recruitment dan pelatihan karyawan), dan tentu persiapan apa yang akan menjadi objek bisnis (misalnya dalam bisnis retail, maka yang dipersiapkan adalah persediaan barang). Ini salah satu contoh perencanaan aset dan SDM (penyusunan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan, baik dari jenis yang perlu disediakan maupun jumlahnya).

Langkah kedua adalah proyeksi bisnis. Sebelum menetukan proyeksi bisnis, perlu dilakukan survey terlebih dulu. Nah dalam survey sendiri pun ada beberapa komponen, misalnya rencana pangsa pasar (hal ini sangat erat dengan: populasi penduduk, tingkat pendidikan, karakter, budaya, tingkat pendapatan, karakter pangsa pasar yang akan dituju), karakter produk yang akan dijual, dan lokasi tempat yang akan dijadikan bisnis (apakah ada pusat keramaian terdekat, seperti sekolah, pasar, dll, serta pesaing yang memiliki bisnis sejenis).

Masuk dalam proyeksi bisnis, ada beberapa hal yang perlu dihitung diantaranya adalah: matrik penjualan/pendapatan bisnis, target penjualan, matrik beban/pengeluaran, proyeksi laba rugi, skema penyusutan barang, dan timeline kerja. Hal tersebut, semata-mata untuk menerjemahkan konsep yang bersifat kualitatif menjadi kuantitatif. Katakanlah bisnis koperasi ingin balik modal selama 3 tiga tahun sejak bisnis didirikan. Maka, perlu dirumuskan berapa omzet penjualan yang harus didapatkan per tahun, kemudian diturunkan dalam per bulan, diturunkan lagi dalam per minggu, kemudian diturunkan lagi per hari, hingga sampai pada akhirnya berapa penjualan yang diharapkan tiap-tiap produk, berikut dengan rencana margin yang ingin didapatkan.

Dalam penyusunan juga perlu diprediksi berapa saat sepi, ramai dan sedang. Lantas juga dipetakan, apa yang dimaksud ramai, apa yang dimaksud sepi, dan apa yang dimaksud dengan sedang. Misal, dikatakan ramai apabila peak season karena ada event 17 Agustus di dekat lokasi bisnis, dan lain sebagainya.

Gambar di atas adalah contoh matrik pendapatan/penjualan bisnis yang dikelola oleh bisnis retail koperasi. Apabila sudah terbentuk matrik penjualan, tentu bagi pengelola bisnis perlu menurunkan strategi teknis agar angka-angka tersebut benar-benar tercapai di lapangan. Strategi tersebut didukung dengan data-data target penjualanbisnis tersebut, yang disusun berdasarkan matrik penjualan. Maka, baik matrik maupun proyeksi, akan menentukan strategi penjualan bisnis koperasi. Strategi, akan menentukan real pendapatan yang akan didapatkan oleh bisnis koperasi. So, matangkan dalam perencanaan!

Pencatatan keuangan

Bisnis sudah bisa dibilang gagal, apabila bagian keuangan tidak mencatat secara detail bagaimana keluar dan masuknya uang di bisnis tersebut. Paling tidak, pencatatan sederhana menggunakan cara “cash flow” (dimana dalam pencatatan tersebut hanya ada: tanggal, nama akun, debet, kredit, dan saldo).

Selain mencatat, bagi karyawan yang bertanggungjawab dengan keuangan harus menyimpan bukti transaksi keuangan. Baik transaksi yang menyebabkan uang keluar, maupun bukti transaksi uang masuk. Dari cash flow saja, sudah terlihat posisi keuangan dan binis koperasi tersebut. Ini lah mengapa saya katakan bahwa apabila tidak ada pencatatan keuangan, maka bisnis yang dijalan tersebut sudah dianggap gagal.

Dari pencatatan tersebut saja, dapat dilihat berapa biaya yang dikeluarkan oleh bisnis koperasi dan berapa pendapatan yang didapatkan oleh bisnis tersebut. Kemudian terlihat, bahwa posisi keuangan per 2 Agustus 2018 adalah Rp. 10.300.000,-. Catatlah, apabila tidak ingin bangkrut!

Laporan dan analisis laporan keuangan

Sebelum menyusun laporan dan yang nanti pada akhirnya menganalisis laporan keuangan, maka dikumpulkan terlebih dahulu data-data laporan keuangannya. Beruntung, apabila sudah dicatat setiap bulan. Minimal, sudah tercatat arus kas.

Beberapa komponen yang perlu dipersiapkan dalam menyusun laporan keuangan, diantaranya adalah: aset barang dan penyusutannya, modal, hutang, piutang, posisi stok, dan laba rugi. Kemudian disusun dengan formula neraca aktiva dan pasiva. Setelah disusun laporan keuangan, maka dilakukan analisis laporan keuangan. Banyak model dalam penyusunan laporan keuangan, namun yang lazim digunakan adalah analisis likuditas dan analisis profitabilitas.

Analisis likuiditas adalah analisis yang berhubungan dengan pemenuhan kewajiban keuangan yang sifatnya sementara, atau harus dipenuhi secara jangka pendek akan ditagih. Dalam analisis likuiditas, ada dua rumus umum yang digunakan. Rumus pertama adalah current ratio, dimana perhitungannya adalah aktiva lancar dibagi dengan hutang lancar. Sedangkan rumus yang kedua adalah quick ratio, hasil dari pengurangan aktiva lancar dengan persediaan, dibagi dengan hutang lancar.

Analisis yang selanjutnya adalah analisis untuk mengetahui seberapa besar efisiensi penggunaan aktiva yang digunakan oleh bisnis koperasi. Ada dua rumus umum dalam menghitung analisis profitabilitas, yang pertama adalah analisis return of investment (RoI), dan yang kedua adalah profit margin. Rumus RoI adalah pembagian antara laba setelah pajak dengan rata-rata kekayaan, dikali seratus persen. Sedangkan rumus profit margin adalah pembagian laba operasi dengan penjualan, dikali seratus persen.

Dari analis tersebut nantinya dapat menjadi bahan evaluasi dan penyusunan strategi-strategi bisnis berikutnya. Karena dengan analisis tersebut, maka perkembangan bisnis yang dijalankan oleh koperasi akan terpantau. Tentu, stigma negatif bahwa bisnis yang dijalankan oleh koperasi tidak menguntungkan (atau bahkan bangkrut) akan hilang. Tunjukkan saja grafik analisisnya, dan lihat betapa kerennya growth bisnis yang dijalankan oleh koperasi! []

 

*Penulis adalah Konsultan Prakarsa Unggul Consulting

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *